Beberapa produk rumah tangga dituduh dapat menyebabkan munculnya kanker,
mulai dari bra, deodoran dan obat kumur. Penyebabnya adalah kandungan
bahan-bahan kimia dan radiasi yang dapat memicu mutasi gen.
Namun
seiring makin banyaknya penelitian yang berkembang, beberapa bukti yang
muncul kemudian menyanggah tuduhan-tuduhan tersebut. Meskipun demikian,
beberapa orang masih mewaspadai kemungkinan buruk yang dapat terjadi.
Seperti dilansir US News, Selasa (28/8/2012), beberapa barang rumah tangga yang dituduh memicu kanker tersebut antara lain:
1. Pemanis Buatan
Hasil
penelitian laboratorium menunjukkan bahwa pemanis buatan siklamat dapat
menyebabkan kanker kandung kemih pada tikus. Food and Drug
Administration di AS pun melarang penggunaannya. Penggantinya, sakarin,
juga terbukti dapat menyebabkan tumor pada tikus, namun tidak melarang
penggunaannya.
Kenyataannya, National Cancer Institute menegaskan
tidak ada bukti yang memperkuat bahwa siklamat atau sakarin dapat
menyebabkan kanker pada manusia. Pemanis buatan aspartam juga sempat
dicurigai, tetapi para ilmuwan menegaskan tidak meningkatkan risiko
kanker pada manusia.
2. Obat kumur
Sejumlah
penelitian di akhir tahun 70-an telah mewaspadai obat kumur yang
mengandung etanol dapat memicu kanker mulut. Peneliti berteori bahwa
obat kumur membuat jaringan mulut lebih rentan terhadap karsinogen.
Kenyataannya,
bukti yang mendukung teori tersebut lemah. Menurut American Dental
Association, penelitian tidak dapat menunjukkan bahwa obat kumur dengan
kadar etanol yang tinggi berisiko menimbulkan masalah dibandingkan yang
kadarnya lebih kecil.
3. Statin
Statin adalah
obat penurun kolesterol yang sempat dituduh meningkatkan risiko kanker.
Sebuah penelitian tahun 2007 menyimpulkan hal ini ketika peneliti
mengamati efek samping statin. Hasillnya menemukan bahwa pasien yang
memakai statin dosis tinggi lebih mungkin didiagnosis berbagai macam
kanker.
Nyatanya, tinjauan tahun 2008 terhadap 15 uji klinis
mengenai statin meragukan temuan tersebut. Kadar kolesterol LDL yang
rendah memang ditemukan berkaitan dengan kanker, tapi bukan obat penurun
kolesterol yang harus disalahkan. Penelitian lain terhadap sekitar
170.000 orang juga tidak menemukan hubungan antara statin dan kanker.
4. Telepon Seluler
Pada
tahun 1993, seorang pria menggugat produsen ponsel karena produknya
dianggap bertanggung jawab atas kanker otak yang ia derita. Hal ini
memicu kemarahan publik dan berbuntut banyak tuntutan hukum yang sama.
Akhirnya, jutaan dolar dikeluarkan untuk meneliti apakah gelombang radio
yang dipancarkan oleh ponsel memang berbahaya.
Kenyataannya,
penelitian saat ini tidak bisa mengkonfirmasi hubungan antara ponsel
dengan kanker. Para ilmuwan melacak hampir 13.000 orang dewasa selama 10
tahun dan menemukan peningkatan kasus kanker otak agresif di kalangan
pengguna ponsel. Namun pengguna ponsel secara keseluruhan memiliki
tingkat kanker yang lebih rendah daripada yang tak pernah pakai ponsel.
5. Antiperspiran dan deodoran
Sepuluh
tahun lalu, seorang wanita mendapat e-mail yang memperingatkan bahwa
menggunakan antiperspirant dapat menyebabkan kanker payudara. Sejak itu,
beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa pengawet paraben dalam
anitiperspiran dan deodoran dapat menyaru hormon estrogen. Dalam jumlah
tinggi, estrogen dapat meningkatkan risiko kanker payudara.
Kenyataannya,
tidak ada bukti bahwa antiperspiran atau deodoran menyebabkan kanker.
Penelitian tahun 2004 menemukan adanya paraben dalam sampel jaringan
kanker payudara, namun 99 persen paraben dapat diperoleh dari berbagai
sumber, termasuk kosmetik dan makanan.
6. Bra
Pada
tahun 1995, sebuah buku berjudul 'Dressed to Kill' menuduh bahwa wanita
yang rutin memakai bra lebih berisiko terkena kanker payudara
dibandingkan dengan yang tidak pakai. Teorinya, bra memicu penumpukan
racun penyebab kanker di payudara.
Faktanya, para ahli menekankan
bahwa hubungan antara bra dan kanker payudara tidak pernah terbukti.
Memang ada bukti yang menunjukkan faktor lain mempengaruhi risiko kanker
payudara, misalnya berat badan, usia, dan riwayat keluarga. Wanita yang
tidak memakai bra cenderung jaringan payudaranya kurang padat sehingga
berkurang risikonya terserang kanker payudara.
7. Pewarna Rambut
Pada
tahun 2008, peneliti dari WHO memunculkan kekhawatiran akan kemungkinan
pewarna rambut dapat memicu kanker. Kesimpulan ini muncul setelah
menemukan adanya kanker kandung kemih di kalangan pria penata rambut dan
tukang cukur.
Kenyataannya, temuan tersebut didasarkan pada
penelitian yang dilakukan pada waktu berbeda sehingga risiko dapat
terjadi akibat paparan bahan kimia beberapa tahun sebelumnya. Menurut
National Cancer Institute, tidak ada bukti bahwa pewarna rambut dapat
memicu kanker.
http://health.detik.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar